Minggu, 14 Mei 2017

SINTAKSIS



SINTAKSIS

Menurut Ramlan, sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Sedangkan menurut Tarigan, sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frase.
A.  Frase
Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Frase juga diartikan sebagai kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan).
B.  Jenis Frase
Berdasarkan kesetaraan distribusi unsur – unsurnya, frase dibagi dua jenis :
1.    Frase Endosentrik
a.    Frase Endosentrik Koordinatif, frase yang unsur – unsurnya setara dalam kalimat dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Contohnya :
-          Rumah pekarangan
-          Kakek nenek
-          Suami istri
b.    Frase Endosentrik Atributif, frase yang unsur – unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau. Contohnya :
-          Buku baru
-          Sedang belajar
-          Belum mengajar
c.    Frase Endosentrik Apositif, frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Contohnya :
-          Amin, anak Pak Darto sedang belajar.
2.    Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Contohnya :
-       Di pasar
-       Ke sekolah
-       Dari kampung


Berdasarkan segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dibagi menjadi :
1)   Frase Verbal, satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba (kerja) sebagai intinya dan tidak merupakan klausa (berpotensi menjadi kalimat). Contoh :
-       Kapal laut itu sudah berlabuh.
-       Bapak saya belum pergi.
-       Ibu saya sedang mencuci.
2)   Frase Nominal, satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contoh :
-       Kakek membeli tiga buah layang – layang.
-       Dodi makan beberapa butir telur.
3)   Frase Adjektiva, satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contoh :
-       Ibu bapakku sangat gembira.
-       Baju itu sangat indah.
4)   Frase Pronomina, satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang) dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Contoh :
-       Saya sendiri akan pergi ke pasar.
-       Kami sekalian akan berkunjung ke Bali.
5)   Frase Numeralia, dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Contoh :
-       Tiga buah rumah sedang terbakar.
-       Lima ekor ayam sedang terbang.









”Siapkan Sanksi Untuk Bus Pariwisata Maut”

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ikut merasa prihatin dengan insiden kecelakaan maut di Jalan Raya Puncak, Desa Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (30/4) siang yang merenggut belasan korban jiwa.
Insiden maut di jalur Puncak siang tadi merupakan yang kedua dalam bulan ini. “Kemenhub telah meminta agar para korban dibantu dan ditangani dengan baik,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, J.A. Barata, Minggu (30/4).
Kemenhub juga telah mengirim salah satu pejabatnya di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat ke lokasi kecelakaan untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian dalam rangka penyelidikan. Tujuannya mencari penyebab kecelakaan tersebut.
Untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa, Kemenhub juga telah menugaskan Ditjen Hubdar untuk berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Jawa Barat guna melakukan pemeriksaan terhadap seluruh armada bus. “Termasuk bus AKAP (antar-kota antar-provinsi, red) maupun pariwisata,” jelasnya.
Soal sanksi, Kemenhub juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Sanksi bisa kepada pengemudi ataupun perusahaan pemilik bus.
Kemenhub sesuai kewenangannya juga memastikan bakal memberikan sanksi administrasi yang setimpal kepada perusahaan angkutan umum yang mengabaikan faktor – faktor keselamatan. “Kami juga terus membina perusahan angkutan umum agar terus melaksanakan sistem manajemen keselamatan transportasi yang baik,” imbuh J.A. Barata.
Seperti diketahui, kecelakaan maut terjadi di kawasan Jalan Raya Puncak, Desa Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat siang tadi saat sebuah bus pariwisata mengalami rem blong dan menabrak sejumlah kendaraan lainnya. Akibatnya, 12 orang meninggal dunia. (ded/jpg/udn)
(Sumber : RADAR TARAKAN, edisi Senin 1 Mei 2017, hal A10)

Analisis frasenya :
Frase endosentrik koordinatif (kecelakaan maut).
Frase numeralia (merenggut belasan korban jiwa).
Frase endosentrik koordinatif (insiden maut).
Frase verbal (“Kemenhub telah meminta agar para korban dibantu dan ditangani dengan baik”)
Frase endosentrik apositif (“Kemenhub telah meminta agar para korban dibantu dan ditangani dengan baik,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, J.A. Barata, Minggu (30/4)).
Frase verbal (Kemenhub juga telah mengirim salah satu pejabatnya di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat ke lokasi kecelakaan untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian dalam rangka penyelidikan)
Frase verbal (Untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa, Kemenhub juga telah menugaskan Ditjen Hubdar untuk berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Jawa Barat guna melakukan pemeriksaan terhadap seluruh armada bus.)
Frase pronomina (“Kami juga terus membina perusahan angkutan umum agar terus melaksanakan sistem manajemen keselamatan transportasi yang baik,” imbuh J.A. Barata.)
Frase numeralia (Akibatnya, 12 orang meninggal dunia)








1 komentar:

Hubungan Antara Teori Sastra, Kritik Sastra, dan Sejarah Sastra

HUBUNGAN ANTARA TEORI SASTRA, KRITIK SASTRA, DAN SEJARAH SASTRA 1.     Teori sastra, adalah salah satu cabang ilmu sastra yang memp...