Jumat, 31 Maret 2017

Morfologi



MORFOLOGI

A.  Pengertian Morfologi
Kata morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani. Morphologie terdiri dari dua kata yaitu, morphe yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk.
     Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu :
            a.       Kata dasar, contohnya nyanyi.
           b.       Kata berimbuhan, contoh bernyanyi.
            c.       Kata majemuk, contohnya sapu tangan.
           d.       Kata ulang, contohnya berjalan – jalan.
B.   Proses Morfologi
       Proses morfologik ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologi, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).
1.    Proses Pembubuhan Afiks (Afiksasi).
     Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian. Afiksasi terdiri atas:
                     a.       prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-),
                     b.       sufiks (–kan, –an, –i),
                     c.       infiks (–el-, -em-, -er-),
                     d.       konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
                     e.       simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
2.  Proses Pengulangan (Reduplikasi).
Pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Cara menentukan bentuk dasar kata ulang :
·      Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek.
·      Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
C.  Pengertian Morfem
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya. Morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil, sebagai satuan gramatikal morfem mempunyai makna
D.  Jenis – jenis Morfem
Berdasarkan kriteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis.
1.    Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
a)    Ditinjau dari Hubungan Struktur
Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Misalnya tikus, bentuk pertamanya adalah mouse, sedangkan bentuk keduanya adalah mice.
Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan. Misalnya / gras / :gemuk: merupakan bentuk betina, maka jantannya patilah / gra /.
b)   Ditinjau dari Hubungan Posisi
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /kehujanan/. /kesiangan/ dan sebagainya. Bentuk /kehujanan/ terdiri dari /ke…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siang/. Bentuk /ke-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /kehujan/ atau /hujanan/ maupun /kesiang/ atau /siangan/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu (discontinous morpheme).
2.    Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morfem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau.
Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar.




“Polres Malinau Tambah 22 Personel”

            Kapolres Malinau AKBP Wiwin Firta YAP SIK melalui Kabag Sumber daya (Sumda) Kompol Darsono menyebutkan, adanya penambahan personel Polri di Kabupaten Malinau ini secara tidak langsung dalam upaya untuk memperkuat keamanan di wilayah perbatasan. Khususnya di daerah Kabupaten Malinau yang terbagi di 15 wilayah Kecamatan yang hanya di naungi oleh 7 kantor polisi sektor (Polsek) yaitu Polsek Malinau Kota, Malinau Utara, Malinau Barat, Malinau Selatan, Kayan Hulu Kayan Hilir, dan Pujungan.
(Sumber : RADAR KALTARA, Kabupaten Malinau, edisi Selasa 28 Maret 2017)

Proses morfologinya :
Morfem bebas : ini, tidak, langsung, dalam, upaya, untuk, di, wilayah, daerah, yang, hanya, oleh, yaitu, dan.
Melalui : morfem terikat, kata dasar “lalu”, menggunakan proses afiksasi yaitu konfiks me + i (me + lalu + i).
Menyebutkan : morfem terikat, kata dasar “sebut”, menggunakan afiksasi yaitu konfiks men + kan.
Penambahan : morfem terikat, kata dasar “tambah”, menggunakan afiksasi yaitu konfiks pen + an.
Secara : morfem terikat, kata dasar “cara”, menggunakan afiksasi yaitu prefiks se (se + cara).
Memperkuat : ­morfem terikat = mem, per.
Keamanan : morfem terikat, kata dasar “aman”, menggunakan afiksasi konfiks ke + an (ke + aman + an).
Perbatasan : morfem terikat, kata dasar “batas”, menggunakan afiksasi konfiks per + an (per + batas + an).
Terbagi : morfem terikat, kata dasar “bagi”, menggunakan afiksasi prefiks ter (ter + bagi).








Senin, 20 Maret 2017

FONOLOGI



“FONOLOGI”
A.  Pengertian Fonologi
Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi – bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi – bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil  dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata.
Asal kata fonologi, secara harfiah sederhana, terdiri dari gabungan kata fon (yang berarti bunyi) dan logi (yang berarti ilmu). Dalam khazanah bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda, yaitu fonologie.
B.  Ilmu – ilmu yang tercangkup dalam Fonologi :
Fonologi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik. Fonologi berbeda dengan fonetik.
1.    Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia
Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan maka bunyi yang dihasilkan adalah vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan dari beberapa hal berikut :
a.    Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
b.    Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi).
c.    Maju mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum atau lengkung kaki gigi)
Jika bunyi ujaran, ketika udara keluar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan. Pembagian fonem konsonsan dalam bahasa Indonesia, misalnya berikut ini :
a.    Konsonan hambat, bersuara, bilabial; b
b.    Konsonan hambat, tak bersuara, bilibial: p
c.    Konsonan hambat, bersuara, bilabial:m, dan seterusnya.


2.    Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti. Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada tiga puluh dua buah fonem, yang terdiri atas;
a.    Fonem vokal 6 buah;a,i,u,e,o,
b.    Fonem diftong 3 buah, oi,ai,ou
c.    Fonem konsonan 23 buah.
C. Alat Ucap Bahasa
Alat-alat ucap manusia yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi 3 bagian :
1.    Artikulator, ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat menyentuh bagian-bagian alat ucap lainnya (titik artikulasi) serta dapat membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak dibagian bawah atau rahang bawah. Alat ucap yang dimaksud artikulator seperti :
a)    Bibir bawah (labium)
b)   Gigi Bawah (dentum)
c)    Ujung Lidah (apeks)
d)   Depan Lidah (front of the tongue)
e)    Tengah Lidah (lamino)
f)    Belakang lidah (dorsum)
g)   Akar lidah
2.    Titik artikulasi, ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan bersifat statis. Alat-alat ini terdapat dibagian atas atau rahang atas. Alat-alat ucap yang dimaksud seperti :
a)    Bibir atas (labium)
b)   Gigi atas (dentum)
c)    Lengkung kaki gigi atas (alveolum)
d)   Langit-langit keras (alatum)
e)    Langi-langit lunak (velum)
f)    Anak tekak (uvula)
3.    Alat-alat lain, yang dimaksud ialah alat-alat bicara selain artikulator dan titik artikulasi yang dapat menunjang terjadinya bunyi bahasa. Alat ucap yang dimaksud seperti :
a)    Hidung (nose)
b)   Rongga Hidung (nasal cavity)
c)    Rongga Mulut (oral cavity)
d)   Pamgkal Kerongkongan (laring)
e)    Katup Jakun (epiglotis)
f)    Pita Suara
g)   Pangkal Tenggorokan (laring)
h)   Batang Tenggorokan (trakea)
i)     Paru-paru
j)     Sekat Rongga dada (diafragma)
k)   Saraf Diafragma
l)     Selaput Rongga Dada (pleural cavity)
m) Bronchus.
D. Manfaat Fonologi
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat, bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menulis singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsur suprasugmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jeda, dan intonasi. Perlambangan unsur suprasugmental ini dikenal dengan istilah tanda baca.

Sumber :
Suparlan .2014. Panduan Lengkap EYD . Yogyakarta: Pustaka Baru Press.











Bunyi Bahasa
Penjelasan
a
Lidah beradu pada artikulator
i
Bentuk bibir terbentang lebar
u
Bentuk bibir hampir tertutup, bulat
e
Depan lidah dinaikkan setinggi yang mungkin ke arah gigi gusi
o
lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di bawah tertutup
Fonem diftong
oi
Bibir bulat hampir tertutup, lidah berada ditengah
ai
Bibir terbuka bulat
ou
Bibir bulat hampir tertutup
Fonem konsonan
a
Bibir terbuka bulat, lidah beradu pada artikulator
b
Bibir bawah dan atas dirapat kan kemudian dipisah
c
Hadapan lidah rapat ke lelangit keras untuk membuat sekatan pada arus udara.
D
Hujung lidah dinaikkan rapat ke gusi untuk membuat sekatan penuh pada arus udara.
e
Bentuk bibir terbentang lebar
f
Bentuk bibir terbentang lebar kemudian menyatu
g
Bentuk bibir terbentang lebar, lidah berada ditengah
h
Bentuk bibir terbuka bulat
i
Ujung lidah dikenakan pada gusi
j
Bentuk bibir terbentang lebar
k
Bentuk bibir terbuka netral, lidah beradu pada artikulator
l
Lidah beradu pada gigi atas
m
Bibir bawah dan bibir atas dirapatkan untuk membuat sekatan pada arus udara.
n
Hujung lidah dinaikkan pada gusi atau gigi gusi untuk membuat sekatan arus udara
o
Bentuk bibir bulat
p
Kedua bibir dirapatkan untuk membuat sekatan penuh pada arus udara dari paru-paru ke rongga mulut. Sekatan pada dua bibir dilepaskan serta- merta.
q
Bibir terbentang lebar kemudian membentuk bibir bulat
r
Hujung lidah dikenakan pada gusi. Arus udara melalui rongga mulut menggetarkan hujung lidah.
s
Udara keluar melalui sempitan depan lidah dan gusi untuk menghasilkan bunyi konsonan.
t
Hujung lidah dinaikkan rapat ke gusi untuk membuat sekatan penuh pada arus udara. Sekatan yang dibuat oleh hujung lidah dan gusi dilepaskan serta-merta
u
Bentuk bibir bulat
v
Bibir bawah dan atas hampir bersentuhan kemudian dilepaskan.
w
Bibir dibundarkan. Udara dari paru – paru keluar ke rongga mulut.
x
Udara keluar melalui sempitan depan lidah dan gusi untuk menghasilkan bunyi konsonan.
y
Bentuk bibir netral.
z
Lidah berada di antara gigi.
Fonem khuster
kh
Bentuk bibir terbuka bulat
ny
Bentuk bibir netral
ng
Lidah berada di rahang bawah
sy
Lidah beradu di gusi gigi bawah.



Hubungan Antara Teori Sastra, Kritik Sastra, dan Sejarah Sastra

HUBUNGAN ANTARA TEORI SASTRA, KRITIK SASTRA, DAN SEJARAH SASTRA 1.     Teori sastra, adalah salah satu cabang ilmu sastra yang memp...