“SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA
INDONESIA”
A. Pengertian
Bahasa
Bahasa
adalah penggunaan kode bahasa yang merupakan gabungan fenom sehingga membentuk
kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti.
B. Sejarah
Perkembangan Bahasa Indonesia
Penelusuran perkembangan bahasa
Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu tertulis) atau
prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bangsa Melayu di kepulauan
Nusantara. Prasasti-prasati itu mengungkapkan sesuatu yang menggunakan bahasa
Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu. Nama-nama prasasti
adalah:
1. Kedukan
Bukit (683 Masehi)
2. Talang
Tuwo (684 Masehi)
3. Kota
Kapur (686 Masehi)
4. Karang
Brahi (686 Masehi)
5. Gandasuli
(832 Masehi)
6. Bogor
(942 Masehi)
7. Pagaruyung
(1356) (Abas, 1987: 24)
Prasasti-prasasti
itu memuat tulisan Melayu kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa
Melayu kuno dan bahasa Sanskerta.
1. Prasasti
Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi sungai Tatang di Sumatera Selatan, yang bertahun
683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat
nama Sriwijaya.
2. Prasasti
Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka, menjelaskan tentang konstruksi
bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas perintah Hyang Sri- Jayanaca
sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri. Prasasti ini juga
memuat berbagai mantra suci dan berbagai doa untuk keselamatan raja.
3. Prasasti
Kota Kapur di Pulau Bangsa dan Prasasti Karang Brahi di Kambi, keduanya
bertahun 686 Masehi atau 608 Saka, isinya hampir sama, yaitu permohonan kepada
Yang Maha Kuasa untuk keselamatan kerajaan Sriwijaya, agar menghukum para
penghianat dan orang-orang yang memberontak kedaulatan raja. Juga berisi
permohonanan keselamatan bagi mereka yang patuh, taat, dan setia kepada raja
Sriwijaya.
Selain
berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan
sumber informasi tentang asal-usul bahasa Melayu. Sejarah kuno Negeri Cina
turut membuktikan tentang keberadaan bahasa Melayu tersebut. Pada awal masa
penyebaran agama kristen, pengembara-pengembara Cina yang berkunjung ke
kepulauan Nusantara menjumpai adanya berbagai lingua franca yang mereka namai Kw’en
Lun di Asia Tenggara. Salah satu diantara Kw’en Lun itu oleh I Tsing di identifikasi ke dalam Chronicle-nya sebagai bahasa Melayu.
Untuk keperluan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia, Traktat
London (Perjanjian London) 1824 antara pemerintah Inggris dan Belanda merupakan
tonggak sejarah yang sangat penting. Sebab, pada traktat itu antara lain berisi
kesepakatan pembagian dua wilayah, yaitu:
a. Semenanjung
Melayu dan Singapura beserta pulau pulau kecilnya menjadi kekuasaan kolonial
Inggris; dan
b. Kepulauan
Nusantara (Kepulauan Sunda Besar: pulau-pulau Sumatera, Jawa, sebagian Borneo/
Kalimantan dan Sulawesi; Kepulauan Sunda Kecil; pulau-pulau Bali, Lombok,
Flores, Sumbawa, Sumba, sebagian Timor dan lain-lain; Kepulauan Maluku dan
sebagian Irian ) menjadi kekuasaan Kolonial Belanda.
C. Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan
Bahasa Melayu Riau
Beberapa
Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan Bahasa Melayu Riau dapat diungkapkan
dibawah ini :
1.
Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat
oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi
bahasa Belanda. Peranan ke-lingua franca-an
bahasa Melayu semakin nyata dan penting.
2. Tahun
1901 Charles van Ophuijsen menerbitkan bukunya yang berjudul Kitab logat Melajoe: Wondenlijst voor de
Spelling der Maleische Taal yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu
mempergunakan huruf latin yang bersifat fonemis. Sebelumnya bahasa Melayu Riau
mempergunakan huruf Arab (biasa diistilahkan huruf Jawi) yang bersifat silabik
sebagai sistem ejaan. Sistem ejaan van Ophuijsen dengan huruf latin dianggap
lebih sesuai dengan bahasa Melayu.
3. Tahun
1918 bahas Melayu mulai dipergunakan didalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat). Dengan demikian status bahasa Melayu
meningkat menjadi bahasa supra-etnik melebihi bahasa-bahasa daerah lainnya.
4. Tahun
1920 bahasa Melayu menjadi bahasa Balai Pustaka. Semua buku hasi penerbitan
Balai Pustaka mempergunakan bahasa Melayu. Penyebaran bahasa Melayu ke pelosok
Nusantara semakin intensif. Semua sekolah dasar di desa-desa mempergunakan
bahasa Melayu sebagai bahasa pegantar. Di samping itu, bahasa Melayu juga
menjadi bahasa para pejuang kemerdekaan Indonesia.
5. Pada
tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu dijadikaan oleh para peserta Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan
yang tertuang pada butir ketiga Soempah
Pemoeda yang diikrarkannya.
6. Pada
tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga
Baroe sekelompok pengarang yang menerbitkan berbagai majalah buku.
7. Pada
tahun 1938 Kongres Bahasa Melayu (Indonesia) di Solo. Kongres ini meletakkan
dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu
lagi.
8. Tahun
1942-1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu
menjadi satu-satunya bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan.
9. Pada
tanggal 17 Agustus 1945 prolamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh
dunia dengan mnggunakan bahasa Indonesia. Pasal ... ayat ... UUD 1945 memuat
bahwa “Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi negara.” Sejak itu
bahasa Indonesia menjadi bahasa Angkatan ’45.
10. Tahun
1954 Kongres bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh
utusan dari Semenanjung Malaya dan Singapura.
11. Tahun
1972 anatara Republik Indonesia dan Negara Malaysia tercapai persetujuan di
bidang kebudayaan. Masalah bahasa termasuk di dalamnya. Terbentuklah Majelis
Bahasa Indonesia dan Malaysia (MABIM).
12. Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan
pemberlakuan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) di Indonesia dan
di Malaysia. Kenyataan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai norma
supra-nasional.
13. Pada
tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakuan tatacara pembentukan istilah
di Indonesia dan Malaysia. Hal ini semakin memperkuat MABIM sehingga Negara
Brunai Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di dalam
majelis bahasa ini.
14. Kongres
Bahasa Indonesia III dan seterusnya disenggarakan secara teratur setiap lima
tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan
yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa persatuan,
bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi, maupun sebagai bahasa ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek).
15. Kerja
sama kebangsaan atara Negara Kesatuan Republik Indonesia, Negara Malaysia,
Negara Brunai Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh. Keadaan ini
akan mengantar bahasa Melayu menjadi bahasa komunikasi luas di kawasan Asia
Tenggara untuk selanjutnya diharapkan menjadi slah satu bahasa dunia di dalam
abad ke-21.
Berdasarkan petunjuk-petunjuk lainnya, dapatlah kita
kemukakan bahwa Zaman Sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut:
1. Bahasa
Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi
aturan-aturan hidup dan sastra.
2. Bahasa
Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) antarsuku di
Indonesia.
3.
Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama di sepanjang
pantai, baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun bagi
perdagangan-perdagangan yang datang dari luar Indonesia.
D. Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Pada tanggal 28 Oktober 1928, para
pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah Putusan Kongres Pemuda Indonesia
Tahun 1928 ini berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut.
Pertama
: Kami putra dan putri Indonesia mengaku
bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
: Kami putra dan putri Indonesia mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung
tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Dengan
diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasa Melayu, yang sudah dipakai sejak
pertengahan Abad VII itu, menjadi bahasa Indonesia.
E. Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia
1. Ejaan Van
Ophuysen
Ejaan ini
digunakan sejak tahun 1901 sampai Maret 1974 di Indonesia. Ejaan ini merupakan
ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin, ciri-cirinya huruf “I” untuk membedakan
antara huruf I sebagai akhiran dan karenanya harus dengan diftong seperti mulai
dengan ramai, juga digunakan untuk huruf “y” soerabaia. Huruf “j” untuk
menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang dan sebagainya. Huruf “oe” untuk
menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dan sebagainya.
Tanda
diakritik seperti koma, ain, dan tanda, untuk menuliskan kata-kata ma’moer,
akal’, ta’, pa’ dan sebagainya.
2. Ejaan Republik
Ejaan ini diresmikan pada tanggal
19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini dikenal dengan nama
Ejaan Soewandi.
Ciri-ciri:
a. Huruf
“oe” diganti dengan “u” pada kata-kata guru, itu, umur, dan sebagainya.
b. Bunyi
Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan “k” pada bunyi kata-kata tak, pak,
rakjat, dan sebagainya. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti
kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Awalan di- dalam kata depan di kedua-duanya
ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
3. Ejaan
Melindo (Melayu Indonesia)
Di kenal pada tahun 1959, karena perkembangan
politik selama bertahun-tahun berikutnya diurungkanlah peresmian ejaan ini.
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan diresmikan pada tanggal 17 Agustus
1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Berdasarkan Putusan Presiden No.57 Tahun
1972.
Sumber
:
Zulkifli, Erna Wahyuni,
M. Thobroni. 2012. Bahasa Indonesia Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Lisan
dan Tulis di Perguruan Tinggi, halaman 1-14. Tarakan : Penerbit Imperium
Bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan.
“KONGRES PEMUDA”
Kongres Pemuda (ejaan van Ophuysen: Congres Pemoeda)
adalah kongres nasional yang pernah diadakan 2 kali di Jakarta (Batavia).
Kongres Pemuda I diadakan tahun 1926 dan menghasilkan kesepakatan bersama
mengenai kegiatan pemuda pada segi sosial, ekonomi, dan budaya. Kongres ini
diikuti oleh seluruh organisasi pemuda saat itu seperti Jong Java, Jong
Sumatra, Jong Betawi, dlsb. Selanjutnya juga disepakati untuk mengadakan
kongres yang kedua.
1.
Kongres Pemuda I (30 April - 2 Mei
1926)
Kongres Pemuda yang pertama ini dilaksanakan
di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda I dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2
Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani.
2.
Kongres Pemuda II (1928)
Kongres kedua ini
diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, dan keputusannya dikenal
sebagai Sumpah Pemuda. Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres
Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28
Oktober 1928.
a)
Rapat Pertama
27 Oktober, malam
minggoe (7.30 – 11.30) di gedoeng Katholike Jongelingen Bond, Walterlooplein.
·
Memboeka kerapatan oleh Toean Soegondo.
· Menerima
salam dan menhoekai kerapatan.
· Dari
hal Persatoean dan Kebangsaan Indonesia, oleh Moeh. Yamin.
b) Rapat
Kedua
20
Oktober 1928, hari minggoe (8-12) di Ost Java Bioscoop, Koningsplein Noord.
Membitjarakan perkara pendidikan oleh :
· Poernoemoewoelan
· S.
Mangoensarkoro
· Djokosarwono
· Ki
Hadjar Dewantoro
c) Rapat
Ketiga
(28 Oktober 1928 malam Senen 5.30 –
7.30 di gedoeng Indonesisch Clubhuis Kramat 106)
1. Arak-arakan pandoe (Padvinderij
17.30 – 19.30)
2. Dari hal pergerakan Pandoe oleh
T. Ramelan.
3. Pergerakan
Pemoeda Indonesia dan Pergerakan Pemuda di tanah loearan oleh T Mr Spenario.
.4. Mengambil kepoetoesan.
5. Menoetoep
kerapatan.
Catatan:
:
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu "Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu "Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada
tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.
2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang
turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah
Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien Kwie
Panitia Kongres
Pemoeda terdiri dari :
Ketua
: Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta
:
1. Abdul Muthalib Sangadji
2. Purnama Wulan
3. Abdul Rachman
4. Raden Soeharto
5. Abu Hanifah
6. Raden Soekamso
7. Adnan Kapau Gani
8. Ramelan
9. Amir (Dienaren van Indie)
10. Saerun (Keng Po)
11. Anta Permana
12. Sahardjo
13. Anwari
14. Sarbini
15. Arnold Manonutu
16. Sarmidi Mangunsarkoro
17. Assaat
18. Sartono
19. Bahder Djohan
20. S.M. Kartosoewirjo
21. Dali
22. Setiawan
23. Darsa
24. Sigit (Indonesische Studieclub)
25. Dien Pantouw
26. Siti Sundari
27. Djuanda
28. Sjahpuddin Latif
29. Dr.Pijper
30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch
Zaken)
31. Emma Puradiredja
32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
33. Halim
34. R.M. Djoko Marsaid
35. Hamami
36. Soekamto
37. Jo Tumbuhan
38. Soekmono
39. Joesoepadi
40. Soekowati (Volksraad)
41. Jos Masdani
42. Soemanang
43. Kadir
44. Soemarto
45. Karto Menggolo
46. Soenario (PAPI & INPO)
47. Kasman Singodimedjo
48. Soerjadi
49. Koentjoro Poerbopranoto
50. Soewadji Prawirohardjo
51. Martakusuma
52. Soewirjo
53. Masmoen Rasid
54. Soeworo
55. Mohammad Ali Hanafiah
56. Suhara
57. Mohammad Nazif
58. Sujono (Volksraad)
59. Mohammad Roem
60. Sulaeman
61. Mohammad Tabrani
62. Suwarni
63. Mohammad Tamzil
64. Tjahija
65. Muhidin (Pasundan)
66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
67. Mukarno
68. Wilopo
69. Muwardi
70. Wage Rudolf Soepratman
71. Nona Tumbel
Sumber
:
“KONGRES BAHASA INDONESIA”
Kongres
Bahasa Indonesia adalah pertemuan rutin 5 tahunan yang diadakan oleh
pemerintah dan praktisi bahasa dan sastra Indonesia untuk membahas Bahasa
Indonesia dan perkembangannya. Kongres ini pertama kali diadakan di
kota Solo
pada tahun 1938.
Pada mulanya kongres diadakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda
yang terjadi pada tahun 1928, selanjutnya ajang ini tidak hanya untuk memperingati
Sumpah Pemuda tetapi juga untuk membahas perkembangan bahasa dan sastra
Indonesia dan rencana pengembangannya.
Tanggal 25-28 Juni 1938
dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat
disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah
dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal
18 Agustus 1945, dilakukan pendatangan Undang-Undang Dasar 1945, yang salah
satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya
Tanggal 28
Oktober hingga 1 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan
tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang
diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
Tanggal 16
Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan
sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun
1972.
Tanggal 31
Agustus 1972 Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan
menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman
Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
Tanggal 28
Oktober hingga 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah
Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan
perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan
kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
4. Kongres Bahasa Indonesia IV di
Jakarta, 21 s.d. 26 November 1983.
Tanggal
21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta.
Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang
ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis
Besar Haluan Negara,
yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
5. Kongres Bahasa Indonesia V di
Jakarta, 27 Oktober s.d. 3 November 1988
Tanggal 28
Oktober hingga 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di
Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia
dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan mempersembahkan karya
besar Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa
Indonesia dan Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
6. Kongres Bahasa Indonesia VI di
Jakarta, 28 Oktober – 2 November 1993
Tanggal 28
Oktober hingga 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di
Jakarta. Diikuti oleh peserta sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53
peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta
mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia.
7. Kongres Bahasa Indonesia VII,
Jakarta, 26-30 Oktober 1998
Tanggal
26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan pembentukan Badan
Pertimbangan Bahasa.
8. Kongres Bahasa Indonesia VIII,
Jakarta, 14-17 Oktober 2003
Pada
bulan Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan
menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda
yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda
memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun
dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa
Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan
bahasa tahun ini mencakup juga Kongres Bahasa Indonesia.
9.
Kongres
Bahasa Indonesia IX, Jakarta, 28 Oktober-1 November 2008
Dalam
rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan
60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa
2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan
dan kesusasteraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan
kesusasteraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX
Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.
Kongres
tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah,
penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media
massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para
pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama
ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri
sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres
tahun ini.
10. Kongres Bahasa Indonesia X, Jakarta,
28 Oktober-31 Oktober 2013
Kongres
Bahasa Indonesia yang ke sepuluh dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28
Oktober sampai 31 Oktober 2013. Kesimpulan dari kongres bahasa yang ke sepuluh
ini ialah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) merekomendasikan hal –
hal yang perlu dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta paparan enam makalah
pleno tunggal, diantaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang
kelompok yang tergabung dalam delapan topik diskusi panel, dan diskusi yang
berkembang selama persidangan.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kongres_Bahasa_Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar